Assalamualaikum wr. wb.
Al Quran adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi
Muhammad s.a.w., sebagai salah satu rahmat yang tidak ada taranya bagi alam
semesta. Di dalamnya terkumpul Wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk,pedoman dan
pelajaran bagi siapa yang mempercayai serta mengamalkannya. Bukan itu saja, Al
Quran itu adalah Kitab Suci yang paling penghabisan diturunkan Allah, yang
isinya mencakup segala pokok-pokok syariat yang terdapat di dalamKitab-kitab
Suci yang diturunkan sebelumnya. Karena itu, setiap orang yang mempercayai Al
Quran, akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, untuk
mempelajari dan memahaminya serta untuk mengamalkan dan mengajarkannya samapai
merata rahmatnya dirasai dan dikecap oleh penghuni alam semesta.
Setiap Mu’min harus yakin, bahwa membaca Al Quran saja sudah
termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda.
Sebab, yang dibacanya itu adalah Kitab Suci Ilahi. Al Quran adalah bacaan yang
paling baik bagi seorang Mu’min. Baik dikala senang maupun susah; di kala
gembira ataupun sedih. Malahan membaca Al Quran itu bukan saja menjadi amal dan
ibadah, tetapi juga menjadi obat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.
Pada suatu ketika datanglah seseorang kepada sahabat Rasulullah
yang bernama Ibnu Mas’ud r.a. meminta nasehat, katanya: ” Wahai Ibnu Mas’ud,
berilah nasehat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang gelisah.
Dalam beberapa hari ini, aku merasa tidak tenteram, jiwaku gelisah dan
fikiranku kusut; makan tak enak, tidur tak nyenyak.”
Maka Ibnu Mas’ud menasehatinya, katanya:” Kalau penyakit itu
yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu ketempat
orang membaca Al Quran, engkau baca Al Quran atau engkau dengar baik-baik orang
yang membacanya; atau engkau pergi ke pengajian yang mengingatkan hati kepada
Allah; atau engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, disana engkau berkhalwat
menyembah Allah, umpama di waktu tengah malam buta, di saat orang sedang tidur
nyenyak, engkau bangun mengerjakan shalat malam, meminta dan memohon kepada
Allah ketenangan jiwa, ketentraman fikiran dan kemurnian hati. Seandainya
jiwamu belum juga terobati dengan cara ini, engkau minta kepada Allah, agar
diberi-Nya hati yang lain, sebab hati yang kamu pakai itu, bukan lagi hatimu.”
Setelah orang itu kembali kerumahnya, diamalkannyalah nasihat
Ibnu Mas’ud r.a. itu. Dia pergi mengambil wudhu kemudian diambilnya Al Quran,
terus dia baca dengan hati yang khusyu. Selesai membaca Al Quran, berubahlah
kembali jiwanya, menjadi jiwa yang aman dan tenteram, fikirannya tenang,
kegelisahannya hilang sama sekali.
Tentang keutamaan dan kelebihan membaca Al Quran, Rasulullah
telah menyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,
yang maksdunya demikian:” Ada dua golongan manusia yang sungguh-sungguh orang
dengki kepadanya, yaituorang yang diberi oleh Allah Kitab Suci Al Quran ini,
dibacanya siang dan malam; dan orang yang dianugerahi Allah kekayaan harta,
siang dan malam kekayaan itu digunakannya untuk segala sesuatu yang diridhai
Allah.”
Di dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim pula, Rasulullah menyatakan tentang kelebihan martabat dan keutamaan
orang membaca Al Quran, demikian maksudnya:” Perumpamaan orang Mu’min yang
membaca Al Quran, adalah seperti bunga utrujjah, baunya harum dan rasanya
lezat; orang Mu’min yang tak suka membaca Al Quran, adalah seperti buah korma,
baunya tidak begitu harum, tetapi manis rasanya; orang munafiq yang membaca Al
Quran ibarat sekuntum bunga, berbau harum, tetapi pahit rasanya; dan orang
munafiq yang tidak membaca Al Quran, tak ubahnya seperti buah hanzalah, tidak
berbau dan rasanya pahit sekali.”
Dalam sebuah hadits, Rasulullah juga menerangkan bagaimana
besarnya rahmat Allah terhadap orang-orang yang membaca Al Quran di rumah-rumah
peribadatan (mesjid, surau, mushalla dan lain-lain). Hal ini dikuatkan oleh
sebuah hadits yang masyur lagi shahih yang berbunyi sebagai berikut:” Kepada
kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah peribadatan, membaca Al Quran secara
bergiliran dan ajar megajarkannya terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya
ketenangan dan ketenteraman, akan berlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan
dijaga oleh malaikat, juga Allah akan mengingat mereka” (diriwayatkan oleh
Muslim dan Abu Hurairah).
Dengan hadits di atas nyatalah, bahwa membaca Al Quran, baik
mengetahui artinya ataupun tidak, adalah termasuk ibadah, amal shaleh dan
memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya; memberi cahaya ke dalam
hati yang membacanya sehingga terang benderang, juga memberi cahaya kepada
keluarga rumah tangga tempat Al Quran itu dibaca. Di dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas r.a. Rasulullah bersabda : “Hendaklah kamu
beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan sembahyang dan dengan membaca Al Quran.”
Di dalam hadits yang lain lagi, Rasulullah menyatakan tentang
memberi cahaya rumah tangga dengan membaca Al Quran itu. Dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Daru Quthi dari Anas r.a. Rasulullah memerintahkan :
“Perbanyaklah membaca Al Quran di rumahmu, sesungguhnya di dalam rumah yang tak
ada orang membaca Al Quran, akan sedikit sekali dijumapi kebaikan di rumah itu,
dan akan banyak kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah.”
Mengenai pahala membaca Al Quran, Ali bin Abi Thalib mengatakan
bahwa, tiap-tiap orang yang membaca Al Quran dalam sembahyang, akan mendapat
pahala lima puluh kebajikan untuk tiap-tiap huruf yang diucapkannya; membaca Al
Quran di luar sembahyang dengan berwudhu, pahalanya dua puluh lima kebajikan
bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya; dan membaca Al Quran di luar sembahyang
dengan tidak berwudhu, pahalanya sepuluh kali kebajikan bagi tiap-tiap huruf
yang diucapkannya.
Mendengarkan Bacaan Al
Quran
Di dalam ajaran Islam, bukan membaca Al Quran saja yang menjadi
ibadah dan amal yang mendapat pahala dan rahmat, tetapi mendengarkan Al Quran
pun begitu pula. Malahan sebagian ulama mengatakan, bahwa mendengarkan orang
membaca Al Quran pahalanya sama dengan orang yang membacanya.
Tentang pahala orang mendengarkan bacaan Al Quran dengan jelas
dalam surat Al A’raaf (7) ayat 204 disebutkan sebagai berikut:
“Dan apabila dibacakan Al
Quran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu
mendapat rahmat”.
Mendengarkan bacaan Al Quran dengan baik, dapat menghibur
perasaan sedih, menenangkan jiwa yang gelisah dan melunakkan hati yang keras,
serta mendatangkan petunjuk. Itulah yang dimaksudkan dengan Rahmat Allah, yang
diberikan kepada orang yang mendengarkan bacaan Al Quran dengan baik. Demikian
besar mu’jizat Al Quran sebagai Wahyu Ilahi, yang tak bosan-bosan orang membaca
dan mendengarkannya. Malahan semakin sering orang membaca dan mendengarkannya,
semakin terpikat hatinya kepada Al Quran itu; bila Al Quran itu dibaca dengan
lidah yang fasih, dengan suara yang baik dan merdu akan memberikan pengaruh
kepada jiwa orang yang mendengarkannya, sehingga seolah-olah yang mendengarnya
sudah ada di alam ghaib, bertemu langsung dengan Khaliknya. Bagaimana keadaan
orang Mu’min tatkala mendengarkan bacaan Al Quran itu, digambarkan oleh firman
Allah sebagai berikut:
“Sesungguhnya orang-orang
yang beriman itu, hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah
iman mereka karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al Anfaal QS:8:2)
Diriwayatkan bahwa suatu malam, Nabi Muhammad s.a.w.
mendengarkan Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Quran sampai jauh malam. Sepulang
beliau di rumah, beliau ditanya oleh istri beliau Aisyah r.a., apa sebabnya
pulang sampai jauh malam. Rasulullah menjawab, bahwa beliau terpikat oleh
kemerduan suara Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Quran, seperti
merdunya suara Nabi Daud a.s.
merdunya suara Nabi Daud a.s.
Di dalam riwayat, banyak sekali diceritakan, betapa pengaruh
bacaan Al Quran pada masa Rasulullah terhadap hati orang-orang kafir yang
setelah mendengarkan bacaan Al Quran itu, tidak sedikit hati yang pada mulanya
keras dan marah kepada Muhammad s.a.w. serta pengikut- pengikutnya, berbalik
menjadi lunak dan mau mengikuti ajaran Islam.
Rasulullah sendiri sangat gemar mendengarkan bacaan Al Quran
dari orang lain. Dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Bukhari
disebutkan, bahwa Abdullah Ibnu Mas’ud menceritakan sebagai berikut :
Rasulullah berkata kepadaku: “Hai Ibnu Mas’ud, bacakanlah Al Quran untukku!”. Lalu aku menjawab: “Apakah aku pula yang membacakan Al Quran untukmu, ya Rasulullah, padahal Al Quran itu diturunkan Tuhan kepadamu?”. rasulullah menjawab : “Aku senang mendengarkan bacaan Al Quran itu dari orang lain.”
Rasulullah berkata kepadaku: “Hai Ibnu Mas’ud, bacakanlah Al Quran untukku!”. Lalu aku menjawab: “Apakah aku pula yang membacakan Al Quran untukmu, ya Rasulullah, padahal Al Quran itu diturunkan Tuhan kepadamu?”. rasulullah menjawab : “Aku senang mendengarkan bacaan Al Quran itu dari orang lain.”
Kemudian Ibnu Mas’ud membacakan beberapa ayat dari surat An
Nisaa’. Maka tatkala bacaan Ibnu Mas’ud itu sampai kepada ayat ke-41 yang
berbunyi:
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami
mendatangkan seorang saksi (rasul dan nabi) dari tiap-tiap umat dan Kami
mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).”ayat itu
sangat mengharukan hati Rasulullah, lalu beliau berkata: “Cukuplah sekian saja,
ya Ibnu Mas’ud!”. Ibnu Mas’ud melihat Rasulullah meneteskan air matanya serta
menundukkan kepalanya.
Membaca Al Quran Sampai
Khatam
Bagi seorang Mu’min, membaca Al Quran telah menjadi
kecintaannya. Pada waktu membaca Al Quran, ia sudah merasa seolah-olah jiwanya
menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa; menerima amanat dan hikmat suci,
memohon limpah karunia serta rahmat dan pertolongan-Nya. membaca Al Quran telah
menjadi kebiasaannya yang tertentu, baik siang ataupun malam. Dibacanya
sehalaman demi sehalaman, sesurat demi sesurat, dan se juz demi se juz,
akhirnya samapi khatam (tamat).
Tidak ada suatu kebahagiaan di dalam hati seseorang Mu’min melainkan bila dia dapat membaca Al Quran sampai khatam. Bila sudah khatam, itulah puncak dari segala kebahagiaan hatinya.
Tidak ada suatu kebahagiaan di dalam hati seseorang Mu’min melainkan bila dia dapat membaca Al Quran sampai khatam. Bila sudah khatam, itulah puncak dari segala kebahagiaan hatinya.
Di dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali mencatat beberapa
hadits dan riwayat mengenai pembacaan Al Qur’an sampai khatam. Digambarkannya
bagaimana para sahabat, dengan keimanan dan keikhlasan hati, berlomba-lomba
membaca Al Quran sampai khatam, ada yang khatam dalam sehari semalam saja,
bahkan ada yang khatam dua kali dalam sehari semalam dan seterusnya. Di dalam
sebuah hadits yang shahih, rasulullah menyuruh Abdullah bin Umar, supaya
mengkhatamkan Al Quran sekali dalam seminggu. Begitulah para sahabat seperti
Utsman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud dan Ubaiyy bin Ka’ab, telah menjadi wiridnya
untuk mengkhatamkan Al Quran pada tiap-tiap hari Jum’at.
Adapun mereka yang mengkhatam Al Quran sekali seminggu, Al Quran
itu dibagi tujuh, menurut pembagian yang sudah mereka atur. Utsman bin Affan
r.a. pada malam Jum’at, memulai membacanya dari surat Al Baqarah sampai surat
Al Maa-idah, malam Sabtu dari surat Al An’aam sampai surat Hud, malam Ahad dari
surat Yusuf sampai surat Maryam, malam Senin dari surat Thaaha sampai surat
Thaasim, malam Selasa dari surat Ankabuut sampai surat Shaad, malam Rabu dari
surat Tanzil sampai surat Al Rahmaan, dan mengkhatamkan pada malam Kamis.
Tetapi Ibnu Mas’ud lain lagi membaginya, yaitu: hari pertama 3 surat, hari
kedua 5 surat, hari ketiga 7 surat, hari keempat 9 surat, hari kelima 11 surat,
hari keenam 13 surat dan hari ketujuh adalah surat yang selebihnya sampai
tamat.
Di samping itu, ada juga di antara para sahabat yang membaca Al
Quran sampai khatam dalam sebulan, untuk memperdalam penyelidikannya mengenai
maksud yang terkandung didalamnya.
Adab Membaca Al Quran
Al Qura’an sebagai Kitab Suci, Wahyu Ilahi, mempunyai adab-adab
tersendiri bagi orang-orang yang membacanya. Adab-adab itu sudah diatur dengan
sagnat baik, untuk penghormatan dan keagungan Al Quran; tiap-tiap orang harus
berpedoman kepadanya dan mengerjakannya.
Imam Al Ghazali di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin telah
memperinci dengan sejelas-jelasnya bagaimana hendaknya adab-adab membaca Al
Qur’an menjadi adab yang mengenal batin, dan adab yang mengenal lahir. Adab
yang mengenal batin itu, diperinci lagi menjadi arti memahami asal kalimat,
cara hati membesarkan kalimat Allah, menghadirkan hati dikala membaca sampai ke
tingkat memperluas, memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan
demikian, kandungan Al Quran yang dibaca dengan perantaraan lidah, dapat
bersemi dalam jiwa dan meresap ke dalam hati sanubarinya. Kesemuanya ini adalah
adab yang berhubungan dengan batin, yaitu dengan hati dan jiwa. Sebagai contoh,
Imam Al Gazhali menjelaskan, bagaimana cara hati membesarkan kalimat Allah,
yaitu bagi pembaca Al Qur’an ketika ia memulainya, maka terlebih dahulu ia
harus menghadirkan dalam hatinya, betapa kebesaran Allah yang mempunyai
kalimat-kalimat itu.
Dia harus yakin dalam hatinya, bahwa yang dibacanya itu bukanlah kalam manusia, tetapi adalah kalam Allah Azza wa Jalla. Membesarkan kalam Allah itu, bukan saja dalam membacanya, tetapi juga dalam menjaga tulisan-tulisan Al Quran itu sendiri. Sebagaimana yang diriwayatkan, ‘Ikrimah bin Abi Jahl, sangat gusar hatinya bila melihat lembaran-lembaran yang bertuliskan Al Quran berserak-serak seolah-olah tersia-sia, lalu ia memungutnya selembar demi selembar, sambil berkata:”Ini adalah kalam Tuhanku! Ini adalah kalam Tuhanku, membesarkan kalam Allah berarti membesarkan Allah.”
Dia harus yakin dalam hatinya, bahwa yang dibacanya itu bukanlah kalam manusia, tetapi adalah kalam Allah Azza wa Jalla. Membesarkan kalam Allah itu, bukan saja dalam membacanya, tetapi juga dalam menjaga tulisan-tulisan Al Quran itu sendiri. Sebagaimana yang diriwayatkan, ‘Ikrimah bin Abi Jahl, sangat gusar hatinya bila melihat lembaran-lembaran yang bertuliskan Al Quran berserak-serak seolah-olah tersia-sia, lalu ia memungutnya selembar demi selembar, sambil berkata:”Ini adalah kalam Tuhanku! Ini adalah kalam Tuhanku, membesarkan kalam Allah berarti membesarkan Allah.”
Adapun mengenai adab lahir dalam membaca Al Quran, selain
didapati di dalam kitab Ihya Ulumuddin, juga banyak terdapat di dalam
kitab-kitab lainnya. Misalnya dalam kitab Al Itqan oleh Al Imam Jalaludin As
Suyuthu, tantang adab membaca Al Quran itu diperincinya sampai menjadi beberapa
bagian.
Diantara adab-adab
membaca Al Quran, yang terpenting ialah:
1. Disunatkan membaca Al Quran sesudah berwudhu, dalam keadaan
bersih, sebab yang dibaca adalah wahyu Allah.
2. Mengambil Al Quran hendaknya dengan tangan kanan; sebaiknya
memegangnya dengan kedua belah tangan.
3. Disunatkan membaca Al Quran di tempat yang bersih, seperti di
rumah, di surau, di mushalla dan di tempat-tempat lain yang dianggap bersih.
Tapi yang paling utama ialah di mesjid.
4. Disunatkan membaca Al Quran menghadap ke Qiblat, membacanya
dengan khusyu’ dan tenang; sebaiknya dengan berpakaian yang pantas.
5. Ketika membaca Al Quran, mulut hendaknya bersih, tidak berisi
makanan, sebaiknya sebelum membaca Al Quran mulut dan gigi dibersihkan terlebih
dahulu.
6. Sebelum membaca Al Quran disunatkan membaca ta’awwudz, yang
berbunyi: a’udzubillahi minasy syaithanirrajim. Sesudah itu barulah dibaca
Bismillahirrahmanir rahim. Maksudnya, diminta lebih dahulu perlindungan Allah,
supaya terjauh pengaruh tipu daya syaitan, sehingga hati dan fikiran tetap
tenang di waktu membaca Al quran, dijauhi dari gangguan. Biasa juga orang yang
sebelum atau sesudah membaca ta’awwudz itu, berdoa dengan maksud memohon kepada
Alah supaya hatinya menjadi terang. Doa itu berbunyi sebagai berikut.
“Ya Allah bukakanlah kiranya
kepada kami hikmat-Mu, dan taburkanlah kepada kami rahmat dan khazanah-Mu, ya
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
7. Disunatkan membaca Al Quran dengan tartil, yaitu dengan
bacaan yang pelan-pelan dan tenang, sesuai dengan firman Allah dalam surat (73)
Al Muzammil ayat 4:
“….Dan bacalah Al Quran
itu dengan tartil”.
Membaca dengan tartil itu lebih banyak memberi bekas dan
mempengaruhi jiwa, serta serta lebihmendatangkan ketenangan batin dan rasa
hormat kepada Al Quran.Telah berkata Ibnu Abbas r.a.:” Aku lebih suka membaca
surat Al Baqarah dan Ali Imran dengan tartil, daripada kubaca seluruh Al Quran
dengan cara terburu-buru dan cepat-cepat.”
8. Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al
Quran, disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang
ayat-ayat yang dibacanya itu dan maksudnya. Cara pembacaan seperti inilah yang
dikehendaki, yaitu lidahnya bergerak membaca, hatinya turut memperhatikan dan
memikirkan arti dan maksud yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibacanya.
Dengan demikian, ia akan sampai kepada hakikat yang sebenarnya, yaitu membaca
Al Quran serta mendalami isi yang terkandung di dalamnya.Hal itu akan
mendorongnya untuk mengamalkan isi Al Quran itu. Firman Allah dalam surat (4)
An Nisaa ayat 82 berbunyi sebagai berikut:
“Apakah mereka tidak
memperhatikan (isi) Al Quran?…”
Bila membaca Al Quran yang selalu disertai perhatian dan
pemikiran arti dan maksudnya, maka dapat ditentukan ketentuan-ketentuan
terhadap ayat-ayat yang dibacanya. Umpamanya: Bila bacaan sampai kepada ayat
tasbih, maka dibacanya tasbih dan tahmid; Bila sampai pada ayat Doa dan
Istighfar, lalu berdoa dan minta ampun; bila sampai pada ayat azab, lalau
meminta perlindungan kepada Allah; bila sampai kepada ayat rahmat, llau meminta
dan memohon rahmat dan begitu seterusnya. Caranya, boleh diucapkan dengan lisan
atau cukup dalam hati saja. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, dari Ibnu
Abbas yang maksudnya sebagai berikut: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. apabila
membaca: “sabbihissma rabbikal a’la beliau lalu membaca subhanarobbiyal a’la .
Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, dan Wa-il binHijr yang maksudnya sebagai
berikut:” Aku dengan Rasulullah membaca surat Al Fatihah , maka Rasulullah
sesudah membaca walad dholliin lalu membaca aamin . Demikian juga disunatkan
sujud, bila membaca ayat-ayat sajadah, dan sujud itu dinamakan sujud tilawah.
Ayat-ayat sajadah itu terdapat pada 15 tempat yaitu:
dalam surat Al-A’raaf ayat 206
dalam surat Ar-ra’d ayat 15
dalam surat An-Nahl ayat 50
dalam surat Bani Israil ayat 109
dalam surat Maryam ayat 58
dalam surat Al-Haji ayat 18 dan ayat 77
dalam surat Al Furqaan ayat 60
dalam surat Annaml ayat 26
dalam surat As-Sajdah ayat 15
dalam surat As-Shad ayat 24
dalam surat Haamim ayat 38
dalam surat An-Najm ayat 62
dalam surat Al-Insyiqaq ayat 21, dan
dalam surat Al-’Alaq ayat 19
dalam surat Ar-ra’d ayat 15
dalam surat An-Nahl ayat 50
dalam surat Bani Israil ayat 109
dalam surat Maryam ayat 58
dalam surat Al-Haji ayat 18 dan ayat 77
dalam surat Al Furqaan ayat 60
dalam surat Annaml ayat 26
dalam surat As-Sajdah ayat 15
dalam surat As-Shad ayat 24
dalam surat Haamim ayat 38
dalam surat An-Najm ayat 62
dalam surat Al-Insyiqaq ayat 21, dan
dalam surat Al-’Alaq ayat 19
9. Dalam membaca Al Quran itu, hendaknya benar-benar diresapkan
arti dan maksudnya, lebih-lebih apabila smapai pada ayat-ayat yang
menggambarkan nasib orang-orang yang berdosa, dan bagaimana hebatnya siksaan
yang disediakan bagi mereka. Sehubungan dengan itu, menurut riwayat, para
sahabat banyak yang mencucurkan air matanya di kala membaca dan mendengar
ayat-ayat suci Al Quran yang menggambarkan betapa nasib yang akan diderita oleh
orang-orang yang berdosa.
10. Disunatkan membaca Al Quran dengan suara yang bagus lagi
merdu, sebab suara yang bagus dan merdu itu menambah keindahan islubnya Al
Quran. Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
“Kamu hiasilah Al Quran
itu dengan suaramu yang merdu”
Diriwayatkan, bahwa pada suatu malam Rasulullah s.a.w.
menunggu-nunggu istrinya, Sitti ‘Aisyah r.a. yang kebetulan agak terlambat
datangnya. Setelah ia datang, Rasulullah bertanya kepadanya:” Bagaimanakah
keadaanmu?” Aisyah menjawab :”Aku terlambat datang, karena mendengarkan bacaan
Al Quran seseorang yang sangat bagus lagi merdu suaranya. Belum pernah
akumendengarkan suara sebagus itu.”
Maka Rasulullah terus berdiri dan pergi mendengarkan bacaan Al Quran yang dikatakan Aisyah itu. rasulullah kembali dan mengatakan kepada Aisyah:” Orang itu adalah Salim, budak sahaya Abi Huzaifah. Puji- pujian bagi Allah yang telah menjadikan orang yang suaranya merdu seperti Salim itu sebagai ummatku.”
Maka Rasulullah terus berdiri dan pergi mendengarkan bacaan Al Quran yang dikatakan Aisyah itu. rasulullah kembali dan mengatakan kepada Aisyah:” Orang itu adalah Salim, budak sahaya Abi Huzaifah. Puji- pujian bagi Allah yang telah menjadikan orang yang suaranya merdu seperti Salim itu sebagai ummatku.”
Oleh sebab itu, melagukan Al Quran dengan suara yang bagus,
adalah disunatkan, asalkan tidak melanggar ketentuan-ketentuan dan tata cara
membaca sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ilmu qiraat dan tajwid, seperti
menjaga madnya, harakatnya (barisnya) idghamnya dan lain-lainnya. Di dalam
kitab zawaidur raudhah, diterangkan bahwa melagukan Al Quran dengan cara
bermain-main serta melanggar ketentuan- ketentuan seperti tersebut di atas itu,
haramlah hukumnya; orang yang membacanya dianggap fasiq, juga orang yang
mendengarkannya turut berdosa.
11. Sedapat-dapatnya membaca Al Quran janganlah diputuskan hanya
karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya pembacaan diteruskan
sampai ke batas yang telah ditentukan, barulah disudahi. Juga dilarang
tertawa-tawa, bermain-main dan lain-lain yang semacam itu, ketika sedang
membaca Al Quran. Sebab pekerjaan yang seperti itu tidak layak dilakukan
sewaktu membaca Kitab Suci dan berarti tidak menghormati kesuciannya.
Itulah diantara adab-adab yang terpenting yang harus dijaga dan
diperhatikan, sehingga dengan demikian kesucian Al Quran dapat terpelihara
menurut arti yang sebenarnya.
Waalaikumussalam wr. wb.

0 komentar:
Posting Komentar