1. Perjalanan
nabi musa menemui nabi khidir.
Asslamaualaikum
wr. wb.
Sebelu
menceritakan perjalanan nabi musa menemui nabi khidir kita membaca basmalah
dulu oke
Pada suatu ketika, Allah memberi tahu bahwa ada orang yang
lebih pintar dari pada Musa. Oleh karena itu, Nabi Musa ingin menemuinya. Allah
memberikan petunjuk, “Engkau dapat menemuinya di tempat pertemuan dua laut.
Bawalah seekor ikan besar. Jika ikan itu menghilang, di tempat itulah kamu akan
menjumpai orang itu.”
Setelah itu, Nabi Musa dan seorang murindya, Yusya bin Nun,
memulaikan perjalanan. Mereka membawa seekor okan besar. Nabi Musa berkata,
“Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai di pertemuan dua laut atau aku
akan berjalan selama bertahun – tahun.”
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku
tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan ;
atau aku akan berjalan sampai bertahun – tahun.”’(Al-Quran Surat Al-Kahfi ayat
41).
Pada suatu ketika,
Nabi Musa beristirahat hingga akhirnya tertidur. Tiba – tiba, Yusya bin Nunmelihat
ikan besar itu hidup dan melompat ke laut. Ia terheran – heran dan
bermaksudmembangunkan Nabi Musa. Namun, hal itu tidak jadi dilakukan, karena ia
melihat Nabi Musa tertidur lahap. Ia akan menunggu hingga Nabi Musa terbangun.
Setelah itu, setan membuatnya lupa. Akhirnya, mereka melanjutkan perjalanan
kembali.
Dalam perjalanan, Nabi Musa meminta Yusya bin Nun menyediakan
makanan. Barulah Yusya bin Nun teringat tentang ikan tadi. Ia pun bercerita
bahwa ikan hidup kembali dan meloncat ke laut dengan cara yang aneh sekali.
Musa berkata,”Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti
jejak mereka semula. (Al-Quran Surat Al- kahfi ayat 64).
Sesampai di sana, Nabi Musa berjumpa dengan lelaki tua yang wajahnya
memancarkan keimanan. Ia adalah Nabi Khidir.
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba –
hamba kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang
telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami.” (Al-Quran Surat Al-Kahfi
ayat 65). Yang dimaksud dengan rahmat dalam ayat itu ialah wahyu dan kenabian,
sedangkan yang dimaksud denga ilmu ialah ilmu tentang ghaib.
Dan saya akhiri dengan mengucapkan wassalamualaikum wr.wb
2. Seandainya
allah swt. Tidur
Asslamaualaikum wr. wb.
oke maafkan saya karena telambat datang untuk ceramah semuanya masih semangatkan. Sekarang saatnya untuk menceritakan Seandainya Allah swt tidur lanjut.
Seriap
umat itu pasti memiliki sifat khasnya masing – masing. Umat – umat terdahulu
memiliki tingkat pemahaman yang sangat rendah. Mereka akan percaya kepada
rasulnya setelah melihat mukjizat dengan mata secara langsung. Begitu pula
halnya dengan umat nabi musa, kaum Bani Israel.
Kaum
Bani Israel pernah berklata kepada Nabi Musa, “Hai Musa, kami tidak akan
beriman kepada tuhanmu sebelum kami melihat Allah swt. secara langsung.” Pada
saat itu juga, Allah swt. memperlihatkan kekuasaan-Nya. Allah swt. mengirimkan
kilat yang menyambar mereka sehingga mereka tewas seketika.
Pada
suatu ketika, kaum Bani Israel
bertanyakepada Nabi Musa, “Apakah Tuhanmu tidur?” Di dalam kitab Taurat memang
tertulis bahwa Allah swt. tidak mengantuk dan tidak tidur. Kemusian Nabi Musa
memberitaukan isi Taurat itu kepada mereka. Mereka bertanya lagi, “Apakah
buktinya?”
Kemudian
Allah swt. memerintahkan Nabi Musa untuk mengisi dua botol dengan air.
Selanjutnya Nabi Musa akan menggenggam kedua botol tersebut. Pada saat Nabi
Musa sedang memegang kedua botol itu, Allah swt. menidurkan Nabi Musa sehingga
botol itu jatuh dan pecah. Oleh karena itu Allah swt. berfirman kepada Nabi
Musa, “ Wahai Musa, katakanlah kepada umatmu, seandainya Allah swt. tidur, niscaya
alam semesta ini akan hancur.”
Kaum
Bani Israel adalah kaum yang banyak sekali bertanya tentang Allah swt. Namun,
pertannyaan itu bukanlah untuk menambah iman mereka, melainkan hanya untuk
mempermainkan rasul – rasul yangt di utus kepada mereka.
3. MASA
KECIL THALUT
Nama
asli Thalut ialah Sawal bin Qais. Nama Thalut diberikan karena tubuhnya yang
berukurang besar dan tinggi.
Thalut
adalah anak seorang peternak keledai yang miskin, tetapi berakhlak terpuji. Ia
termasuk keturunan Bunyamin, saudara kandung Nabi Yusuf.
Pada
suatu ketika, Thalut dan ayahnya mengembalakan keledai. Tidak lama kemudian,
seekor keledai betina menghilang. Ayah Thalut meminta Thalut mencari keledai
tersebut. Thalut ditemani seorang budak untuk mencari keledai tersebut. Sekian
lama mencari keledai tersebut, merekapun tidak menemukannya. Budak itu
memberiakan saran kepada Thalut untuk bertanya kepada Nabi Samuel.
Mereka
menumui Nabi Samuel. Thalut berkata, ” saya menemuimu untuk memohon bantuanmu.
Apakah kamu mengetahui keberadaan keledai saya yang hilang?” Nabi Samuel
menjawab, “ jangan khawatir. Keledaimu sedang menuju ketempat ayahmu.” Thalut
pun sengan mendengarkan penjelasan Nabi Samue.
Allah telah memberikan kelebihan
ilmu dan fisik kepada Thalut. Hal itu sesuai dengan surah Al-Baqarah ayat
247,”… sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugrahinya ilmu yang
luas dan tubuh yang perkasa.”

0 komentar:
Posting Komentar