Sabtu, 31 Agustus 2013

Tiga hal yang mengikuti mayit

Tiga hal yang mengikuti mayit

Seorang sahabat nabi bertanya, “Kapan datangnya akhir masa (kiamat itu)?”  Nabi saw balik bertanya, “Apa yang engkau siapkan untuk menghadapinya?”
*Bekal menuju kematian Allah swt berfirman :
“Qul innamaa anaa, basyarummitslukum yuukhaa ilayya,,, annamaa ilaahukum ilaahuwaa hid,---famankaana yarjuu liqaa’a rabbihi falya’mal amalan shoolihan,,,walaayusrik bi ‘ibaadati rabbihii ahadan”.

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhan-nya, maka hendaknya ia mengerjakan amal, amal yang shaleh. Dan jangan ia menyekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhan-nya. (QS. AL-Kahf 18: 110)
Bekal menuju kematian adalah :  Amal, amal yang sholeh, …..dan jangan menyekutukan Allah dengan apapun dalam beribadah kepadaNya
*Balasan orang yang beriman dan beramal shaleh. Adalah surga
Allah swt berfirman :

INNALLADZIINA AAMANUU WA ‘AMILUSH SHOOLIHAATI ---LAHUM JANNAATUN TAJRII MIN TAHTIHAL ANHAARU DZAALIKAL FAUZUL KABIIR.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. Al Buruj 85:11

*Ada tiga hal yang akan mengikuti mayit
Rasulullah saw bersabda
‘An anasin ra. ‘an Rasulillah saw qaala : yatba’ulmayyita tsalaatsatun: ahluhu, wamaaluhu, wa ‘amaluhu,, fayarji ’utsnaani wayabqa waahidun,, yarji’u ahluhu wamaaluhu,, wayabqa ‘amaluhu.
Dari Anas ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda : “Yang mengikuti mayit itu ada tiga,, yaitu : “Keluarga, harta benda dan amal perbuatannya”. Yang dua kembali dan yang satu tetap bersamanya; yaitu keluarga dan harta bendanya kembali, dan amal perbuatannya tetap bersamanya.” (Hr. Bukhari dan Muslim) R1 hal 130
Tiga hal yang mengikuti mayit itu adalah :
-Keluarga yang mencintainya yang kita khawatir akan kesejahteraannya, yang kita khawatirkan jika mereka hidup miskin dan sengsara, tetapi sayang keluarga ini akan kembali lagi dan tidak menemani hingga ke dalam alam kuburnya.
-Harta benda, harta benda yang kita cintai, yang mati-matian kita cari siang jadi malam, malam jadi siang, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala menjadi hak ahli waris yang terkadang menjadi rebutan ahli waris terkadang menjadi penyebab pertengkaran  bahkan sampai pada pembunuhan karena keserakahan ingin menguasai semua harta warisan.
-amal perbuatan, amal yang sering kita abaikan, tidak kita pedulikan malas melakukannya ternyata amal perbuatan inilah yang akan setia mengikuti dan menemaninya hingga dialam kubur sampai hari pembalasan. perbuatan baik atau buruk yang dilakukan selama hidup di dunia akan mengikuti  mayit, berbahagialah jika amal kebaikannya lebih banyak dan celakalah jika perbuatan buruknya lebih banyak dari kebaikannya.

*Biasanya manusia sangat mencintai Keluarga dan harta, mati-matian manusia mencari dan mengumpulkan harta untuk keluarganya agar hidup bahagia dan sejahtera sampai terkadang harus menipu, mencuri ataupun korupsi. Tetapi sering kali melupakan amal dan malas mengerjakannya. Sehingga setelah ada tanda-tanda maut barulah menyesalinya.  

*Amal yang tiada putus pahala kebaikannya meskipun manusia telah meninggal dunia sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
 Qaala Rasulullah saw: “Idzaa matabnu Aadama inqatha’a ‘amaluhu, illlaamin tsalaatsin: Shadaqatin Jaariyatin Au ‘imin yuntafa’u bihi au waladin shaalihin Yad’uulahu”.
Sabda Rasulullah saw : “Apabila telah mati anak Adam (manusia), maka terputuslah amalnya melainkan tiga perkara yaitu sadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shaleh yang mendo’akan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Amal yang tiada putus pahala kebaikannya meskipun pelakunya sedah tiada adalah : Shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat yang diamalkan dan anak yang sholeh hasil didikan orang tua yang shaleh. ketiganya adalah investasi menguntungkan yang keuntungannya tiada putus pahala kebaikannya. inilah bekal yang hendaknya mati-matian kita cari, kita lakukan sebagai bekal menuju kematian menghadap Allah swt.
Jadikanlah masa kelahiranmu engkau menagis dan orang-orang tertawa tersenyum bahagia, dan jadikanlah masa kematianmu engkau tersemnyum bahagia dan orang-orang disekelilingmu menangis kehilangan. Karena kebaikan yang pernah kita lakukan.

Di Hadis yang lain Rasulullah saw bersabda :
Dari Rasulullah saw., beliau bersabda : “Ada tiga hal yang mengikuti jenazah, yaitu : Keluarga, harta dan amalnya. Dua diantaranya akan kembali hanya satu yang tetap menyertainya; yaitu keluarga dan harta bendanya akan kembali, sedangkan yang tetap adalah amalnya.” (Hr. Bukhari dan Muslim) R hal 454



Jumat, 30 Agustus 2013

SYUKUR MEMBAWA BERKAH

SYUKUR MEMBAWA BERKAH

Nah kali ini kita bisa bertemu lagi di ceramah uju. ternyata syukur itu membawa berkah, hmm penasaran ceramah kali ini langsung saja di ceramah uju ... tempat berceramah

*Nikmat yang dianugerahkan Allah kepada kita sangat banyak dan tidak terhitung manusia itu sangat zalim tidak mau mengakui nikmat Allah. Allah swt berfirman :

wa-in ta'udduu ni'mata allaahi laa tuhsuuhaa ,,,  inna allaaha laghafuurun rahiimun

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. An-Nahl 16:18

Wa aataakum min kulli maa sa-altumuuhu,,, wa-in ta'udduu ni'matallaahi laa tuhsuuhaa ,,, innal-insaana lazhaluumun kaffaar.

Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). Ibrahim 14:34


*Allah swt Maha kaya tidak membutuhkan syukur hambanya -Bersyukur untuk kebaikan kita sendiri.

waqaala muusaa in takfuruu antum ,,,  waman fii al-ardhi jamii'an ,,, fa-inna allaaha laghaniyyun hamiidun

Dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya[782] lagi Maha Terpuji". Ibrahim 14:8

[782]  Maksudnya: Allah tidak memerlukan syukur hamba-hamba-Nya.

waman yasykur fa-innamaa yasykuru linafsihi ,,, waman kafara fa-inna allaaha ghaniyyun hamiidun

dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Luqman 31:12

*Bersyukurlah kepada Allah agar rizki yang kita dapat menjadi berkah jika rizki kita berkah akan dapat mencukupi kebutuhan kita, tetapi jika tidak berkah berapapun yang kita dapat akan selalu merasa kurang dan tidak cukup. dan janganlah kita kufur karena kufur itu mengundang murka Allah. Allah swt berfirman :

wa-idz ta-adzdzana rabbukum ,,, la-in syakartum la-aziidannakum ,,, wala-in kafartum inna 'adzaabii lasyadiid.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Ibrahim 14:7

*Bila kita mendapatkan anugerah nikmat ucapkanlah “Alhamdulillah”maka dari waktu ke waktu kita akan merasakan berada dalam curahan rahmad dan kasih sayang Allah,… bahkan ketika kita mendapatkan cobaan, penderitaan, kepahitan hidup tetap mengucapkan “Alhamdulillah” sebab sebesar apapun cobaan yang kita hadapi jauh lebih kecil dibandingkan dengan betapa besar dan banyaknya karunia yang Allah anugerahkan kepada kita.
Lebih banyak sehat kita daripada sakit, lebih banyak senang kita daripada sedih.
*Seorang sufi bertanya kepada seseorang, “Bagaimana syukur menurut anda?” orang itu menjawab. Bila kami mendapat nikmat kami memuji Allah, dan bila tidak kami bersabar,…  Sangsufi berkomentar. “Buat kami tidak demikian,… tetapi jika kami mendapat nikmat maka kami dahulukan orang lain atas diri kami, sehingga kami memberinya, dan bila kami tidak menmdapat nikmat, kami tetap bersyukur, karena kami merasa dalam petaka/musibahpun kami tidak terlepas dari nikmat-Nya. 


BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH

BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH


 oke hari ini jam ini menit ini detik ini kita bertemu lagi di ceramah uju ( ustad jumadi ). kita mulai aja di TKP,
oh sorry maaf karna saya kebanyaka nonton OVJ jadi TKP harusnya kita mulai saja di ceramah uju ... tempat berceramah.

Kita manusia seringkali su ‘udzan berburuk sangka kepada Allah swt. Membandingkan dengan orang lain, _orang lain diberi rezeki banyak, dia merasa hidup paling susah, _orang lain diberi kemudahan kesehatan dia merasa hidupnya selalu sulit, sempit sering sakit. _Bahkan orang kafir dicukupi kebutuhannya, diberi kekayaan rezeki melimpah, dia merasa hidup paling susah miskin sengsara dan menderita. _Sehingga ia menyangka Allah tidak adil,, masak saya yang rajin shalat….hidup susah sementara orang kafir…justru hidup senang…..

Agar kita dapat berbaik sangka kepada Allah maka, kita harus menyakini bahwa:

1*hidup adalah cobaan. Baik buruk, bahagia sengsara, adalah cobaan dari Allah swt.

Manis jangan langsung ditelan, pahit jangan langsung dimuntahkan.                                                                
Jika kita hidup susah sengsara atau menderita itu bisa jadi karena Allah swt sayang kepada kita. Karena jika Allah ingin menjadikan seseorang menjadi baik maka akan diberikan cobaan kepadanya, sehingga kebaikannya benar-benar telah teruji, jangan mengaku baik jika kita belum mendapat ujian.
Rasulullah saw bersabda:    Qaala rosuulullah saw.
“ Manyuridillaahu bihi khairon yushib-minhu”. Rasulullah saw bersabda  “Siapa saja yang di kehendaki Allah menjadi orang baik, maka di berikan cobaan kepadanya.(Hr.Bukhari)                                                                 

Jika hidup dalam kesusahan, kesengsaraan dan penderitaan ia tetap berbuat baik mau beramal shaleh tetap beriman kepada Allah maka ia benar-benar orang yang baik.

2*Manusia yang  butuh kepada Allah swt.

Yaa ayyuhannaasu antumul fuqaraa-u  ilallaah, ---wallaahu huwal ghaniyyul hamiid.
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; -- dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi MahaTerpuji. (Al-Fatir35:15)

Jangan marah jika orang kafir hidup enak kaya harta berlimpah karena memang, dunia ini merupakan surga bagi orang kafir dan penjara bagi orang yang beriman, jangan bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan mereka yang tidak mengenal halal haram. Karena kita yang butuh kepada Allah maka kita harus pertahankan keimanan, kita yang butuh kepada Allah jangan berhenti berbuat kebaikan, menjauh kepada Allah justru akan membuat hidup kita sengsara dunia akherat. Maka istiqamah pertahankan aqidah dan tetap berbuat baik dalam keadaan bagaimanapun lapang atau sempit, sehat atau sakit, Allah ghayatuna Allah tujuan hidup kita.

Innaalladziina qaaluu rabbunaaallaahu tsumma istaqaamuu ,,, falaa khawfun 'alayhim walaa hum yahzanuun
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", Kemudian mereka tetap istiqamah[1388] (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang saleh). Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) bersedih hati. Al-Ahqaf 46:13


3*Kehendak Allah pasti terjadi
Kafir atau muslim jika Allah berkehendak ia menjadi kaya maka ia akan kaya, tetapi kekayaan orang kafir hanya didunia ini tidak bermanfaat nanti diakerat.

Maasyaa Allaahukaana wamaa lam yasya’ lam yakun laahaula walaaquwwata illaabillaahi.“Apa yang di kehendakiNya terjadi, dan apa yang tidak di kehendakinya tidak akan terjadi; tidak ada daya ( untuk memperoleh manfaat) tidak pula kekuatan (untuk menolak mudharat) kecuali bersumber dari Allah swt.”

Jangan terkecoh dengan kebahagiaan semu orang kafir mereka hidup enak kaya banyak harta, lalu kita ikuti jalan mereka dan menjadi kafir Menghalalkan segala cara untuk mendapat harta bahkan dengan  menggadaikan aqidah keimanan kita. Hidup ini ujian kita harus sabar menghadapinya  Yakinlah bahwa pederitaan kita akan berakhir, sakit akan sembuh, kesengsaraan akan berbuah kebahagiaan “sengsara membawa nikmat” jika kita tetap istiqamah berpegang teguh pada keyakian dan  keimanan kita.
*Jika Allah akan mengangkat derajat kita itu mudah, jika Allah akan menjadikan kita kaya itupun sangat mudah karena jika Allah menghendaki sesuatu maka hanya dengan berkata kun jadilah, fayakuun maka jadilah ia
* hanya dengan kata sederhana “Demi Tuhaaan”
Atau
*saudara-saudara masih bersama saya jrmi teti, dibogo gor gor…

*Berbaiksangka kepada Allah, anaa ‘inda zhanni ‘abdii  “Aku selalu mengikuti sanggkaan hambaKu,” kita menyangka baik hasilnya akan baik, sebaliknya jika kita berprasangka buruk maka hasilnya akan buruk juga.

Jika hidup kita susah oo… mungkin Allah sedang memberi ujian , jika sakit oo… Allah akan mengurangi/menggugurkan dosa-dosa,
*Ikutlah berbahagia jika orang lain bahagia
Tetangga beli mobil al hamdulillah mudah mudahan nanti bisa pinjam,
Digunjingkan orang keburukan kita Alhamdulillah dosa-dosa berkurang
*Terus berpikir positif, insyaallah hasilnya juga akan positif/baik
Berpikir negatif hanya akan menumbuhkan keresahan, -hati menjadi tidak tenang, -hidup penuh kecurigaan -timbul penyakit hati iri, dengki “susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah.
*berbaik sangka kepada Allah insyaallah hati menjadi tenang, hidup penuh harapan dan keberkahan, berpikir positip hasilnya akan positip, badan menjadi sehat, jauh dari penyakit.























*Seorang hamba Allah yang banyak dosa masih ada harapan dosa-dosanya diampuni oleh Allah swt, kita tidak boleh berputus asa. Jika kita mau bertaubat pasti Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Allah berfirman :
qul yaa 'ibaadiyalladziina asrafuu 'alaa anfusihim,,, laa taqnathuu min rahmatillaahi,,,  inna allaaha yaghfirudzdzunuuba jamii'an,,,  innahu huwal ghafuurur rahiim.

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa[1314] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Az-Zumar 39:53.

*Orang yang berputus asa dari rahmat Allah, dari ampunan Allah adalah orang yang sesat ia adalah orang kafir.

walaa tay-asuu min rawhi allaahi,,,  innahu laa yay-asu min rawhi allaahi,,,  illaa alqawmu alkaafiruuna

dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." Yusuf 12:87.
*maka janganlah kita berputus asa
Janganlah kita berpikiran negatif kepada Allah, jangan berburuk sangka kepada Allah jika kita dalam kesulitan, kemiskinan, kesusahan, dengan menyangka bahwa Allah tidak adil, tidak sayang pada hambanya. Orang kafir diberi rizki melimpah ruah tidak kekurangan. sementara kita orang beriman hidup dalam kesusahan, padahal kita menyembah kepada Allah. Berpikir negatif hanya akan menumbuhkan keresahan, -hati menjadi tidak tenang, -hidup penuh kecurigaan -timbul penyakit hati iri, dengki
*tetapi berbaik sangkalah kepada Allah agar hati menjadi tenang, hidup penuh harapan dan keberkahan, berpikir positip menjadikan badan menjadi sehat, berpikir positif baik hasilnya juga akan baik. Allah itu sesuai dengan sanggkaan hambanya kepada-Nya, kita menyangka baik hasilnya akan baik sebaliknya jika kita berprasangka buruk maka hasilnya akan buruk juga. Rasulullah saw bersabda :

hadiits Abii Hurairah ra., qaala: qaalannabiyyu saw., Yaquulullaahu ta’alaa : Abu Hurairah ra., berkata: Nabi saw., bersabda : Allah taala berfirman : anaa ‘inda zhanni ‘abdii bii Aku selalu mengikuti sanggkaan hambaKu, wa anaa ma’ahu idzaa dzakaranii dan aku selalu membantunya selama ia ingat kepada-Ku, fain dzakaranii fii nafsihi jika ia ingat pada-Ku dalam hatinya, dzakartuhu fii nafsii Aku ingat padanya dalam diriKu, Wa in dzakaranii fii malaa-in dan jika ia ingat pada-Ku ditengah-tengah orang banyak, dzakartuhu fii mala-in khairin minhum Aku ingat padanya dihadapan Malaikat yang jauh lebih baik dari masyarakatnya. Wa in taqarraba ilayya bisyibrin Dan jika ia mendekat kepadaKu taqarrabtu ilaihi dziraa’an maka Aku akan mendekat kepadany sehasta, Wa in taqarraba ilayya dziraa’an dan jika ia mendekat padaKu sehasta, taqarrabtu ilaihi baa’an Aku mendekat kepadanya sedepa, Wa in ataanii yamsyii ataituhu harwalatan.  dan bila ia datang kepadaKu berjalan maka Aku datang kepadanya berlari. (Bukhari, Muslim). BM 954

*buruk sangka kepada Allah menjadikan hati tidak tenang, hidup penuh kecurigaan
timbul penyakit hati iri, dengki,, senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.
*bersangka baiklah kepada Allah niscaya kita mendapatkan ketenangan hati, optimis penuh harapan kepada Allah  dan mendapatkan keberkahan hidup























tuhanku ampunkanlah segala dosaku…
tuhanku maafkanlah segala ke khilafanku..
kusering melanggar perintahmu baik sadar ataupun tidak
pagiku ingat siangku alpa begitulah sifat diriku

oh Tuhanku kau bimbinglah diri ini
aku lemah aku jahil tanpa bimbingan darimu..
kau pengampun kau penyayang kau pengasih kepada hamba-hambamu…
selangkahku kepadamu seribu langkah kau padaku
tuhan diri ini tidak layak kesurgamu…
namun tidak pula aku sanggup kenerakamu…

‘An Abi Hurairata ra., ‘Aninnabiyyi saw an-nahu qaala: qaalallahu ta’aala ‘azza wajalla : a naa ‘inda  zhanni ‘abdi bi  wa anaa ma’ahu haitsu yadzkurunii,  wallaahi lallaahu afrahu bitaubati ‘abdihi min ahadikum yajidu dhaallatahu bilfalaati, wa man taqarraba ilayya syibran taqarrabtu ilaihi dziraa ‘an, wa mantaqarraba ilayya dziraa’an taqarrabtu ilaihi baa ‘an, wa idzaa aqbala ilayya yamsyii aqbaltu ilaihi uharwilu.

Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “Allah Azza wa Jalla berfirman : anaa ‘inda  zhanni  ‘abdi bi “Aku menurut sangkaan hamba-Ku” wa anaa ma’ahu haitsu yadzkurunii dan Aku senantiasa bersamanya selama ia mengingat Aku. wallaahi lallaahu afrahu bitaubati ‘abdihi Demi Allah, Allah lebih senang menerima tobat hambaNya min ahadikum yajidu dhaallatahu bilfalaati melebihi senangnya seseorang diantara kalian yang menemukan kembali barangnya yang telah hilang di tengah padang pasir. wa man taqarraba ilayya syibran Siapa saja yang mendekat kepadaKu sejengkal, taqarrabtu ilaihi dziraa ‘an, maka aku mendekat kepadanya sehasta, wa mantaqarraba ilayya dziraa’an dan siapa saja yang mendekat kepada-Ku sehasta taqarrabtu ilaihi baa ‘an maka Aku mendekat kepadanya sedepa, wa idzaa aqbala ilayya yamsyii aqbaltu ilaihi uharwilu. dan apabila ia datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari.” (Hr Bukhari dan Muslim) R 435

Wa ‘an jaabirin ibni ‘abdillaahi ra., annahu sami ‘annabiyya saw, qabla mautihi bitsalaatsati ayyaamin yaquulu : laa yamuutanna ahadukum illaa wahuwa yuhsinuzh-zhanna billaahi ‘azza wajalla
Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata : Saya mendengar Nabi saw bersabda sebelum tiga hari kemudian beliau meninggal: laa yamuutanna ahadukum “Jangan sekali-kali salah seorang diantara kamu mati, illaa wahuwa yuhsinuzh-zhanna billaahi ‘azza wajalla  kecuali ia berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla.” (Hr Muslim) R 436

Wa ‘an Anasin ra., qaala : sami’tu Rasulullaahi saw., yaquulu : qaalallaahu Ta’aala: Yaa ibna Aadama innakamaa da autanii warajuu tanii ghafartulaka ‘alaa maakaana minka wlaa abaalii Yaa ibna Aadama lau balaghat zhunuu baka ‘anaa nassamaa-i tsumms taghfartanii ghafartulaka, Yaa ibna Aadama innaka lau ataitanii biquraabil ardhi khuthaayaa tsumma laqiitanii laa tusyrikubii syai-an laatayatuka biquraabihaa maghfirah.
Dari Anas ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah Ta’ala berfirman : Yaa ibna Aadama innakamaa da autanii warajuu tanii ghafartulaka ‘alaa maakaana minka walaa ubaalii “Hai anak Adam, selama kamu berdo’a dan berharap kepada-Ku, pasti Aku ampuni dosa yang telah kamu perbuat, dan Aku tidak peduli berapapun banyaknya.
Yaa ibna Aadama lau balaghat dzunuu baka ‘anaa nassamaa-i tsumms taghfartanii ghafartulaka, Hai anak Adam, andaikan dosa-dosamu bagaikan awan di langit, kemudian kamu memohon ampun kepadaKu, pasti Aku mengampunimu.
Yaa ibna Aadama innaka lau ataitanii biquraabil ardhi khuthaayaa Hai anak Adam sesungguhnya andaikan kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa seisi bumi, tsumma laqiitanii laa tusyrikubii syai-an laatayatuka biquraabihaa maghfirah.
kemudian kamu menghadap Aku sedangkan kamu tidak menyekutukan Aku, Aku akan mengampuni dosa yang seisi bumi banyaknya itu.” (Hr Tirmidzi)


hadiits Abii Hurairah ra., qaala: qaalannabiyyu saw., Yaquulullaahu ta’alaa : anaa ‘inda zhanni ‘abdii bii, wa anaa ma’ahu idzaa dzakaranii., fain dzakaranii fii nafsihi, dzakartuhu fii nafsii. Wa in dzakaranii fii malaa-in, dzakartuhu fii mala-in khairin minhum. Wa in taqarraba ilayya bisyibrin, taqarrabtu ilaihi dziraa’an. Wa in taqarraba ilayya dziraa’an, taqarrabtu ilaihi baa’an. Wa in ataanii yamsyii ataituhu harwalatan.  

hadiits Abii Hurairah ra., qaala: qaalannabiyyu saw., Yaquulullaahu ta’alaa : Abu Hurairah ra., berkata: Nabi saw., bersabda : Allah taala berfirman : anaa ‘inda zhanni ‘abdii bii Aku selalu mengikuti sanggkaan hambaKu, wa anaa ma’ahu idzaa dzakaranii dan aku selalu membantunya selama ia ingat kepada-Ku, fain dzakaranii fii nafsihi jika ia ingat pada-Ku dalam hatinya, dzakartuhu fii nafsii Aku ingat padanya dalam diriKu, Wa in dzakaranii fii malaa-in dan jika ia ingat pada-Ku ditengah-tengah orang banyak, dzakartuhu fii mala-in khairin minhum Aku ingat padanya dihadapan Malaikat yang jauh lebih baik dari masyarakatnya. Wa in taqarraba ilayya bisyibrin Dan jika ia mendekat kepadaKu taqarrabtu ilaihi dziraa’an maka Aku akan mendekat kepadany sehasta, Wa in taqarraba ilayya dziraa’an dan jika ia mendekat padaKu sehasta, taqarrabtu ilaihi baa’an Aku mendekat kepadanya sedepa, Wa in ataanii yamsyii ataituhu harwalatan.  dan bila ia datang kepadaKu berjalan maka Aku datang kepadanya berlari. (Bukhari, Muslim). BM 954








Abu Hurairah ra., berkata: Nabi saw., bersabda : Allah taala berfirman : Aku selalu mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku selalu melindunginya jika ia ingat (zikir) pada-Ku, jika ia ingat pada-Ku dalam hatinya, maka Aku ingat padanya dalam diriku, dan jika ia ingat diri-Ku didepan kawan-kawannya, Akupun ingat kepadanya ditengah rombongan  yang lebih baik dari rombongannya, Dan jika ia mendekat kepadaKu satu jengkal  Aku mendekat kepadanya satu hasta, dan jika ia mendekat padaKu sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaKu berjalan Aku akan datang kepadanya berlari. (Bukhari, Muslim). BM 957

Abu Hurairah ra., berkata: Nabi saw., bersabda : Allah taala berfirman : Aku selalu mengikuti sangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku selalu menolongnya selama ia ingat (zikir) pada-Ku, jika ia zikir (ingat) pada-Ku dalam hatinya, Aku ingat padanya dalam diriku, dan bila ia ingat (zikir) pada-Ku  ditengah-tengah rombongan. maka Aku juga ingat padanya ditengah rombongan  yang lebih baik dari rombongannya, Dan jika ia mendekat kepadaKu sejengkal, maka  Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat padaKu sehasta, maka Akumlebih  mendekat kepadanya sedepa, dan bila ia datang kepadaKu berjalan Aku akan datang kepadanya berlari. (Bukhari, Muslim). BM 974
Yakni Allah yang mendahului karunia-Nya terhadap hamba-Nya.

qaala waman yaqnathu min rahmati rabbihi illaadh-dhaalluun.


Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat." A Hijr 15:56.

Jumat, 02 Agustus 2013

Membaca Al-Quran

Assalamualaikum wr. wb.

Al Quran adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w., sebagai salah satu rahmat yang tidak ada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul Wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk,pedoman dan pelajaran bagi siapa yang mempercayai serta mengamalkannya. Bukan itu saja, Al Quran itu adalah Kitab Suci yang paling penghabisan diturunkan Allah, yang isinya mencakup segala pokok-pokok syariat yang terdapat di dalamKitab-kitab Suci yang diturunkan sebelumnya. Karena itu, setiap orang yang mempercayai Al Quran, akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, untuk mempelajari dan memahaminya serta untuk mengamalkan dan mengajarkannya samapai merata rahmatnya dirasai dan dikecap oleh penghuni alam semesta.
Setiap Mu’min harus yakin, bahwa membaca Al Quran saja sudah termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Sebab, yang dibacanya itu adalah Kitab Suci Ilahi. Al Quran adalah bacaan yang paling baik bagi seorang Mu’min. Baik dikala senang maupun susah; di kala gembira ataupun sedih. Malahan membaca Al Quran itu bukan saja menjadi amal dan ibadah, tetapi juga menjadi obat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.
Pada suatu ketika datanglah seseorang kepada sahabat Rasulullah yang bernama Ibnu Mas’ud r.a. meminta nasehat, katanya: ” Wahai Ibnu Mas’ud, berilah nasehat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang gelisah. Dalam beberapa hari ini, aku merasa tidak tenteram, jiwaku gelisah dan fikiranku kusut; makan tak enak, tidur tak nyenyak.”
Maka Ibnu Mas’ud menasehatinya, katanya:” Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu ketempat orang membaca Al Quran, engkau baca Al Quran atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya; atau engkau pergi ke pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah; atau engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, disana engkau berkhalwat menyembah Allah, umpama di waktu tengah malam buta, di saat orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan shalat malam, meminta dan memohon kepada Allah ketenangan jiwa, ketentraman fikiran dan kemurnian hati. Seandainya jiwamu belum juga terobati dengan cara ini, engkau minta kepada Allah, agar diberi-Nya hati yang lain, sebab hati yang kamu pakai itu, bukan lagi hatimu.”
Setelah orang itu kembali kerumahnya, diamalkannyalah nasihat Ibnu Mas’ud r.a. itu. Dia pergi mengambil wudhu kemudian diambilnya Al Quran, terus dia baca dengan hati yang khusyu. Selesai membaca Al Quran, berubahlah kembali jiwanya, menjadi jiwa yang aman dan tenteram, fikirannya tenang, kegelisahannya hilang sama sekali.
Tentang keutamaan dan kelebihan membaca Al Quran, Rasulullah telah menyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang maksdunya demikian:” Ada dua golongan manusia yang sungguh-sungguh orang dengki kepadanya, yaituorang yang diberi oleh Allah Kitab Suci Al Quran ini, dibacanya siang dan malam; dan orang yang dianugerahi Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaan itu digunakannya untuk segala sesuatu yang diridhai Allah.”
Di dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim pula, Rasulullah menyatakan tentang kelebihan martabat dan keutamaan orang membaca Al Quran, demikian maksudnya:” Perumpamaan orang Mu’min yang membaca Al Quran, adalah seperti bunga utrujjah, baunya harum dan rasanya lezat; orang Mu’min yang tak suka membaca Al Quran, adalah seperti buah korma, baunya tidak begitu harum, tetapi manis rasanya; orang munafiq yang membaca Al Quran ibarat sekuntum bunga, berbau harum, tetapi pahit rasanya; dan orang munafiq yang tidak membaca Al Quran, tak ubahnya seperti buah hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit sekali.”
Dalam sebuah hadits, Rasulullah juga menerangkan bagaimana besarnya rahmat Allah terhadap orang-orang yang membaca Al Quran di rumah-rumah peribadatan (mesjid, surau, mushalla dan lain-lain). Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadits yang masyur lagi shahih yang berbunyi sebagai berikut:” Kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah peribadatan, membaca Al Quran secara bergiliran dan ajar megajarkannya terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketenteraman, akan berlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan mengingat mereka” (diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Hurairah).
Dengan hadits di atas nyatalah, bahwa membaca Al Quran, baik mengetahui artinya ataupun tidak, adalah termasuk ibadah, amal shaleh dan memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya; memberi cahaya ke dalam hati yang membacanya sehingga terang benderang, juga memberi cahaya kepada keluarga rumah tangga tempat Al Quran itu dibaca. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas r.a. Rasulullah bersabda : “Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan sembahyang dan dengan membaca Al Quran.”
Di dalam hadits yang lain lagi, Rasulullah menyatakan tentang memberi cahaya rumah tangga dengan membaca Al Quran itu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Daru Quthi dari Anas r.a. Rasulullah memerintahkan : “Perbanyaklah membaca Al Quran di rumahmu, sesungguhnya di dalam rumah yang tak ada orang membaca Al Quran, akan sedikit sekali dijumapi kebaikan di rumah itu, dan akan banyak kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah.”
Mengenai pahala membaca Al Quran, Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa, tiap-tiap orang yang membaca Al Quran dalam sembahyang, akan mendapat pahala lima puluh kebajikan untuk tiap-tiap huruf yang diucapkannya; membaca Al Quran di luar sembahyang dengan berwudhu, pahalanya dua puluh lima kebajikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya; dan membaca Al Quran di luar sembahyang dengan tidak berwudhu, pahalanya sepuluh kali kebajikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya.
Mendengarkan Bacaan Al Quran
Di dalam ajaran Islam, bukan membaca Al Quran saja yang menjadi ibadah dan amal yang mendapat pahala dan rahmat, tetapi mendengarkan Al Quran pun begitu pula. Malahan sebagian ulama mengatakan, bahwa mendengarkan orang membaca Al Quran pahalanya sama dengan orang yang membacanya.
Tentang pahala orang mendengarkan bacaan Al Quran dengan jelas dalam surat Al A’raaf (7) ayat 204 disebutkan sebagai berikut:
“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.
Mendengarkan bacaan Al Quran dengan baik, dapat menghibur perasaan sedih, menenangkan jiwa yang gelisah dan melunakkan hati yang keras, serta mendatangkan petunjuk. Itulah yang dimaksudkan dengan Rahmat Allah, yang diberikan kepada orang yang mendengarkan bacaan Al Quran dengan baik. Demikian besar mu’jizat Al Quran sebagai Wahyu Ilahi, yang tak bosan-bosan orang membaca dan mendengarkannya. Malahan semakin sering orang membaca dan mendengarkannya, semakin terpikat hatinya kepada Al Quran itu; bila Al Quran itu dibaca dengan lidah yang fasih, dengan suara yang baik dan merdu akan memberikan pengaruh kepada jiwa orang yang mendengarkannya, sehingga seolah-olah yang mendengarnya sudah ada di alam ghaib, bertemu langsung dengan Khaliknya. Bagaimana keadaan orang Mu’min tatkala mendengarkan bacaan Al Quran itu, digambarkan oleh firman Allah sebagai berikut:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al Anfaal QS:8:2)
Diriwayatkan bahwa suatu malam, Nabi Muhammad s.a.w. mendengarkan Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Quran sampai jauh malam. Sepulang beliau di rumah, beliau ditanya oleh istri beliau Aisyah r.a., apa sebabnya pulang sampai jauh malam. Rasulullah menjawab, bahwa beliau terpikat oleh kemerduan suara Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Quran, seperti
merdunya suara Nabi Daud a.s.
Di dalam riwayat, banyak sekali diceritakan, betapa pengaruh bacaan Al Quran pada masa Rasulullah terhadap hati orang-orang kafir yang setelah mendengarkan bacaan Al Quran itu, tidak sedikit hati yang pada mulanya keras dan marah kepada Muhammad s.a.w. serta pengikut- pengikutnya, berbalik menjadi lunak dan mau mengikuti ajaran Islam.
Rasulullah sendiri sangat gemar mendengarkan bacaan Al Quran dari orang lain. Dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan, bahwa Abdullah Ibnu Mas’ud menceritakan sebagai berikut :
Rasulullah berkata kepadaku: “Hai Ibnu Mas’ud, bacakanlah Al Quran untukku!”. Lalu aku menjawab: “Apakah aku pula yang membacakan Al Quran untukmu, ya Rasulullah, padahal Al Quran itu diturunkan Tuhan kepadamu?”. rasulullah menjawab : “Aku senang mendengarkan bacaan Al Quran itu dari orang lain.”
Kemudian Ibnu Mas’ud membacakan beberapa ayat dari surat An Nisaa’. Maka tatkala bacaan Ibnu Mas’ud itu sampai kepada ayat ke-41 yang berbunyi:
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul dan nabi) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).”ayat itu sangat mengharukan hati Rasulullah, lalu beliau berkata: “Cukuplah sekian saja, ya Ibnu Mas’ud!”. Ibnu Mas’ud melihat Rasulullah meneteskan air matanya serta menundukkan kepalanya.
Membaca Al Quran Sampai Khatam
Bagi seorang Mu’min, membaca Al Quran telah menjadi kecintaannya. Pada waktu membaca Al Quran, ia sudah merasa seolah-olah jiwanya menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa; menerima amanat dan hikmat suci, memohon limpah karunia serta rahmat dan pertolongan-Nya. membaca Al Quran telah menjadi kebiasaannya yang tertentu, baik siang ataupun malam. Dibacanya sehalaman demi sehalaman, sesurat demi sesurat, dan se juz demi se juz, akhirnya samapi khatam (tamat).
Tidak ada suatu kebahagiaan di dalam hati seseorang Mu’min melainkan bila dia dapat membaca Al Quran sampai khatam. Bila sudah khatam, itulah puncak dari segala kebahagiaan hatinya.
Di dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali mencatat beberapa hadits dan riwayat mengenai pembacaan Al Qur’an sampai khatam. Digambarkannya bagaimana para sahabat, dengan keimanan dan keikhlasan hati, berlomba-lomba membaca Al Quran sampai khatam, ada yang khatam dalam sehari semalam saja, bahkan ada yang khatam dua kali dalam sehari semalam dan seterusnya. Di dalam sebuah hadits yang shahih, rasulullah menyuruh Abdullah bin Umar, supaya mengkhatamkan Al Quran sekali dalam seminggu. Begitulah para sahabat seperti Utsman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud dan Ubaiyy bin Ka’ab, telah menjadi wiridnya untuk mengkhatamkan Al Quran pada tiap-tiap hari Jum’at.
Adapun mereka yang mengkhatam Al Quran sekali seminggu, Al Quran itu dibagi tujuh, menurut pembagian yang sudah mereka atur. Utsman bin Affan r.a. pada malam Jum’at, memulai membacanya dari surat Al Baqarah sampai surat Al Maa-idah, malam Sabtu dari surat Al An’aam sampai surat Hud, malam Ahad dari surat Yusuf sampai surat Maryam, malam Senin dari surat Thaaha sampai surat Thaasim, malam Selasa dari surat Ankabuut sampai surat Shaad, malam Rabu dari surat Tanzil sampai surat Al Rahmaan, dan mengkhatamkan pada malam Kamis. Tetapi Ibnu Mas’ud lain lagi membaginya, yaitu: hari pertama 3 surat, hari kedua 5 surat, hari ketiga 7 surat, hari keempat 9 surat, hari kelima 11 surat, hari keenam 13 surat dan hari ketujuh adalah surat yang selebihnya sampai tamat.
Di samping itu, ada juga di antara para sahabat yang membaca Al Quran sampai khatam dalam sebulan, untuk memperdalam penyelidikannya mengenai maksud yang terkandung didalamnya.
Adab Membaca Al Quran
Al Qura’an sebagai Kitab Suci, Wahyu Ilahi, mempunyai adab-adab tersendiri bagi orang-orang yang membacanya. Adab-adab itu sudah diatur dengan sagnat baik, untuk penghormatan dan keagungan Al Quran; tiap-tiap orang harus berpedoman kepadanya dan mengerjakannya.
Imam Al Ghazali di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin telah memperinci dengan sejelas-jelasnya bagaimana hendaknya adab-adab membaca Al Qur’an menjadi adab yang mengenal batin, dan adab yang mengenal lahir. Adab yang mengenal batin itu, diperinci lagi menjadi arti memahami asal kalimat, cara hati membesarkan kalimat Allah, menghadirkan hati dikala membaca sampai ke tingkat memperluas, memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan demikian, kandungan Al Quran yang dibaca dengan perantaraan lidah, dapat bersemi dalam jiwa dan meresap ke dalam hati sanubarinya. Kesemuanya ini adalah adab yang berhubungan dengan batin, yaitu dengan hati dan jiwa. Sebagai contoh, Imam Al Gazhali menjelaskan, bagaimana cara hati membesarkan kalimat Allah, yaitu bagi pembaca Al Qur’an ketika ia memulainya, maka terlebih dahulu ia harus menghadirkan dalam hatinya, betapa kebesaran Allah yang mempunyai kalimat-kalimat itu.
Dia harus yakin dalam hatinya, bahwa yang dibacanya itu bukanlah kalam manusia, tetapi adalah kalam Allah Azza wa Jalla. Membesarkan kalam Allah itu, bukan saja dalam membacanya, tetapi juga dalam menjaga tulisan-tulisan Al Quran itu sendiri. Sebagaimana yang diriwayatkan, ‘Ikrimah bin Abi Jahl, sangat gusar hatinya bila melihat lembaran-lembaran yang bertuliskan Al Quran berserak-serak seolah-olah tersia-sia, lalu ia memungutnya selembar demi selembar, sambil berkata:”Ini adalah kalam Tuhanku! Ini adalah kalam Tuhanku, membesarkan kalam Allah berarti membesarkan Allah.”
Adapun mengenai adab lahir dalam membaca Al Quran, selain didapati di dalam kitab Ihya Ulumuddin, juga banyak terdapat di dalam kitab-kitab lainnya. Misalnya dalam kitab Al Itqan oleh Al Imam Jalaludin As Suyuthu, tantang adab membaca Al Quran itu diperincinya sampai menjadi beberapa bagian.
Diantara adab-adab membaca Al Quran, yang terpenting ialah:
1. Disunatkan membaca Al Quran sesudah berwudhu, dalam keadaan bersih, sebab yang dibaca adalah wahyu Allah.
2. Mengambil Al Quran hendaknya dengan tangan kanan; sebaiknya memegangnya dengan kedua belah tangan.
3. Disunatkan membaca Al Quran di tempat yang bersih, seperti di rumah, di surau, di mushalla dan di tempat-tempat lain yang dianggap bersih. Tapi yang paling utama ialah di mesjid.
4. Disunatkan membaca Al Quran menghadap ke Qiblat, membacanya dengan khusyu’ dan tenang; sebaiknya dengan berpakaian yang pantas.
5. Ketika membaca Al Quran, mulut hendaknya bersih, tidak berisi makanan, sebaiknya sebelum membaca Al Quran mulut dan gigi dibersihkan terlebih dahulu.
6. Sebelum membaca Al Quran disunatkan membaca ta’awwudz, yang berbunyi: a’udzubillahi minasy syaithanirrajim. Sesudah itu barulah dibaca Bismillahirrahmanir rahim. Maksudnya, diminta lebih dahulu perlindungan Allah, supaya terjauh pengaruh tipu daya syaitan, sehingga hati dan fikiran tetap tenang di waktu membaca Al quran, dijauhi dari gangguan. Biasa juga orang yang sebelum atau sesudah membaca ta’awwudz itu, berdoa dengan maksud memohon kepada Alah supaya hatinya menjadi terang. Doa itu berbunyi sebagai berikut.
“Ya Allah bukakanlah kiranya kepada kami hikmat-Mu, dan taburkanlah kepada kami rahmat dan khazanah-Mu, ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
7. Disunatkan membaca Al Quran dengan tartil, yaitu dengan bacaan yang pelan-pelan dan tenang, sesuai dengan firman Allah dalam surat (73) Al Muzammil ayat 4:
“….Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil”.
Membaca dengan tartil itu lebih banyak memberi bekas dan mempengaruhi jiwa, serta serta lebihmendatangkan ketenangan batin dan rasa hormat kepada Al Quran.Telah berkata Ibnu Abbas r.a.:” Aku lebih suka membaca surat Al Baqarah dan Ali Imran dengan tartil, daripada kubaca seluruh Al Quran dengan cara terburu-buru dan cepat-cepat.”
8. Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Quran, disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat-ayat yang dibacanya itu dan maksudnya. Cara pembacaan seperti inilah yang dikehendaki, yaitu lidahnya bergerak membaca, hatinya turut memperhatikan dan memikirkan arti dan maksud yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibacanya. Dengan demikian, ia akan sampai kepada hakikat yang sebenarnya, yaitu membaca Al Quran serta mendalami isi yang terkandung di dalamnya.Hal itu akan mendorongnya untuk mengamalkan isi Al Quran itu. Firman Allah dalam surat (4) An Nisaa ayat 82 berbunyi sebagai berikut:
“Apakah mereka tidak memperhatikan (isi) Al Quran?…”
Bila membaca Al Quran yang selalu disertai perhatian dan pemikiran arti dan maksudnya, maka dapat ditentukan ketentuan-ketentuan terhadap ayat-ayat yang dibacanya. Umpamanya: Bila bacaan sampai kepada ayat tasbih, maka dibacanya tasbih dan tahmid; Bila sampai pada ayat Doa dan Istighfar, lalu berdoa dan minta ampun; bila sampai pada ayat azab, lalau meminta perlindungan kepada Allah; bila sampai kepada ayat rahmat, llau meminta dan memohon rahmat dan begitu seterusnya. Caranya, boleh diucapkan dengan lisan atau cukup dalam hati saja. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, dari Ibnu Abbas yang maksudnya sebagai berikut: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. apabila membaca: “sabbihissma rabbikal a’la beliau lalu membaca subhanarobbiyal a’la . Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, dan Wa-il binHijr yang maksudnya sebagai berikut:” Aku dengan Rasulullah membaca surat Al Fatihah , maka Rasulullah sesudah membaca walad dholliin lalu membaca aamin . Demikian juga disunatkan sujud, bila membaca ayat-ayat sajadah, dan sujud itu dinamakan sujud tilawah.
Ayat-ayat sajadah itu terdapat pada 15 tempat yaitu:
dalam surat Al-A’raaf ayat 206
dalam surat Ar-ra’d ayat 15
dalam surat An-Nahl ayat 50
dalam surat Bani Israil ayat 109
dalam surat Maryam ayat 58
dalam surat Al-Haji ayat 18 dan ayat 77
dalam surat Al Furqaan ayat 60
dalam surat Annaml ayat 26
dalam surat As-Sajdah ayat 15
dalam surat As-Shad ayat 24
dalam surat Haamim ayat 38
dalam surat An-Najm ayat 62
dalam surat Al-Insyiqaq ayat 21, dan
dalam surat Al-’Alaq ayat 19
9. Dalam membaca Al Quran itu, hendaknya benar-benar diresapkan arti dan maksudnya, lebih-lebih apabila smapai pada ayat-ayat yang menggambarkan nasib orang-orang yang berdosa, dan bagaimana hebatnya siksaan yang disediakan bagi mereka. Sehubungan dengan itu, menurut riwayat, para sahabat banyak yang mencucurkan air matanya di kala membaca dan mendengar ayat-ayat suci Al Quran yang menggambarkan betapa nasib yang akan diderita oleh orang-orang yang berdosa.
10. Disunatkan membaca Al Quran dengan suara yang bagus lagi merdu, sebab suara yang bagus dan merdu itu menambah keindahan islubnya Al Quran. Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
“Kamu hiasilah Al Quran itu dengan suaramu yang merdu”
Diriwayatkan, bahwa pada suatu malam Rasulullah s.a.w. menunggu-nunggu istrinya, Sitti ‘Aisyah r.a. yang kebetulan agak terlambat datangnya. Setelah ia datang, Rasulullah bertanya kepadanya:” Bagaimanakah keadaanmu?” Aisyah menjawab :”Aku terlambat datang, karena mendengarkan bacaan Al Quran seseorang yang sangat bagus lagi merdu suaranya. Belum pernah akumendengarkan suara sebagus itu.”
Maka Rasulullah terus berdiri dan pergi mendengarkan bacaan Al Quran yang dikatakan Aisyah itu. rasulullah kembali dan mengatakan kepada Aisyah:” Orang itu adalah Salim, budak sahaya Abi Huzaifah. Puji- pujian bagi Allah yang telah menjadikan orang yang suaranya merdu seperti Salim itu sebagai ummatku.”
Oleh sebab itu, melagukan Al Quran dengan suara yang bagus, adalah disunatkan, asalkan tidak melanggar ketentuan-ketentuan dan tata cara membaca sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ilmu qiraat dan tajwid, seperti menjaga madnya, harakatnya (barisnya) idghamnya dan lain-lainnya. Di dalam kitab zawaidur raudhah, diterangkan bahwa melagukan Al Quran dengan cara bermain-main serta melanggar ketentuan- ketentuan seperti tersebut di atas itu, haramlah hukumnya; orang yang membacanya dianggap fasiq, juga orang yang mendengarkannya turut berdosa.
11. Sedapat-dapatnya membaca Al Quran janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya pembacaan diteruskan sampai ke batas yang telah ditentukan, barulah disudahi. Juga dilarang tertawa-tawa, bermain-main dan lain-lain yang semacam itu, ketika sedang membaca Al Quran. Sebab pekerjaan yang seperti itu tidak layak dilakukan sewaktu membaca Kitab Suci dan berarti tidak menghormati kesuciannya.

Itulah diantara adab-adab yang terpenting yang harus dijaga dan diperhatikan, sehingga dengan demikian kesucian Al Quran dapat terpelihara menurut arti yang sebenarnya.
Waalaikumussalam wr. wb.

Khutbah Idul Adha 1429 H Berkorban Demi Tegaknya Islam

assalamualaikum wr. wb.
oke kita bertemu lagi di ceramah ujuku. kali ini saya akan berceramah tentang Khutbah Idul Adha 1429 H Berkorban Demi Tegaknya Islam
                                                  بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر 9×
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.
الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.
اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!
Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd
Kaum Muslim rahimakumullah:
Hari ini, umat Islam di seluruh dunia telah disatukan oleh Allah sebagai satu umat. Mereka merayakan hari Raya Idul Adhha bersama-sama sebagai umat Islam, bukan sebagai bangsa Arab, Afrika, Eropa, Amerika, Australia maupun Asia. Mereka merayakan hari agung dan suci ini sebagai satu umat, yang diikat oleh akidah yang sama, yaitu akidah Islam. Dan diatur dengan hukum yang sama, yaitu hukum Islam.
Namun sayangnya, kesatuan mereka sebagai umat ini hanya sesaat. Sebab, begitu mereka selesai mengerjakan shalat Idul Adhha, kesatuan itu pun sirna. 1,4 milyar umat Islam yang kini tengah merayakan Idul Adhha itu pun kembali menjadi buih, dan tidak berdaya menghadapi penistaan demi penistaan yang terus menghampiri mereka.
Lihatlah, untuk menjaga kehormatan dan kesucian Nabi Muhammad dan keluarga baginda, yang terus-menerus dihina dan dinistakan saja mereka tidak mampu. Paling-paling mereka hanya bisa mengutuk, mengecam, memprotes atau menuntut agar penguasa negeri kaum Muslim itu menyeret dan mengadili pelakunya. Tetapi, apakah seruan itu pernah didengarkan? Tentu saja tidak. Karena para penguasa mereka tidak pernah menjadi penjaga agama mereka. Tidak pernah menjadi pembela kehormatan Nabi mereka. Bahkan, menjadi penjaga wilayah mereka sendiri pun tidak. Sebaliknya, mereka malah bahu-membahu dengan kaum Kafir penjajah agar bisa menduduki dan menguras kekayaan alam negeri-negeri mereka.
Lihatlah, andai bukan karena bantuan para penguasa yang berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan seluruh umat Islam, tentu AS dan sekutunya tidak akan bisa menduduki Irak dan Afganistan. Israel juga tidak akan bisa terus-menerus mengangkangi tanah suci Palestina, yang diberkati oleh Allah. Pakistan juga tidak bisa diobrak-abrik dan diobok-obok oleh AS; sehingga AS, dengan leluasa menjalankan operasi penculikan dan pembunuhan orang-orang yang dianggap bisa mengancam eksistensinya. Allahu akbar.
Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan terus begini? Apa yang menyebabkan kondisi umat yang dinyatakan oleh Allah sebagai umat terbaik ini begitu menyedihkan?; sampai seluruh kehormatan mereka dinodai di depan mata mereka, siang dan malam, mereka pun tak kuasa membelanya.
Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah:
Kondisi ini sudah diisyaratkan oleh baginda Rasulullah saw. Dalam sabdanya, 14 abad yang lalu, baginda menyatakan:
«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ، قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»
“Nyaris saja umat-umat itu mengerumuni kalian sebagaimana mereka mengerumi makanan di atas nampan. Ada yang bertanya, ‘Apakah karena jumlah kita yang saat itu memang sedikit?’ Baginda Nabi menjawab, ‘Tidak. Justru kalian ketika itu jumlahnya banyak, tetapi kalian ibaratnya seperti buih yang diombang-ambingkan gelombang. Allah benar-benar akan mencabut dari dada-dada musuh kalian perasaan segan terhadap diri kalian. Sementara Allah benar-benar akan tanamkan ke dalam benak kalian penyakit wahn.’ Ada yang bertanya, ‘Apakah penyakit wahn itu, wahai Rasulullah?’ Baginda menjawab, ‘Mencintai dunia, dan takut akan kematian.’” (H.r. Ahmad dan at-Tirmidzi)
Penyakit wahn inilah yang menjangkiti umat Islam, sehingga mereka kehilangan haibah (wibawa), sebaliknya mereka justru menjadi penakut dan pengecut. Bandingkan dengan sikap generasi emas terdahulu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sikap Khalid bin Walid terhadap Hurmuz:
«أَمَّا بَعْدُ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، وَأَعْقِدُ لِنَفْسِكَ وَلِقَوْمِكَ الذَِّمَّةَ، وَأُقَرِّرُ بِالْجِزْيَةِ، وَإِلاَّ فَلاَ تَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَكَ، فَقَدْ جِئْتُكَ بِقَوْمٍ يُحِبُّوْنَ الْمَوْتَ كَماَ تُحِبُّوْنَ الْحَيَاةَ»
“Amma ba’du, masuk Islamlah kamu, maka kamu pun akan selamat. Aku telah mengikatkan jaminan untuk dirimu dan kaummu. Aku juga telah menetapkan jizyah. Jika kamu tidak mau, maka jangan sekali-kali menyesal, kecuali meratapi dirimu sendiri. Aku sungguh telah membawa kepadamu suatu kaum yang lebih mencintai kematian, sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”
Allahu Akbar, itulah rahasia kekuatan dan haibah (wibawa) pasukan Khalid bin Walid, generasi emas yang pernah dilahirkan oleh baginda Rasulullah saw. Inti dari kekuatan mereka adalah kesediaan mereka untuk berkorban. Mengorbankan apa saja yang mereka miliki; harta, keluarga, bahkan jiwa dan raga mereka. Dengan pengorbanan itulah mereka begitu menikmati kematian, sebagaimana orang-orang Kafir menikmati kehidupan. Tidak ada rasa takut dan gentar sedikit pun.
Mengapa kematian itu begitu mereka rindukan? Karena, di sanalah mereka mendapatkan kebaikan di sisi Rabb-nya, jannah an-na’im (surga dengan segala kenikmatannya). Pandangan mereka nun jauh ke akhirat; pada surga dengan segala kenikmatannya, dan neraka dengan segala adzab dan siksanya, itulah yang menghidupkan hati mereka, yang membentuk ketakwaan dan ketaatan mereka kepada Allah SWT.
Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah:
Kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail —’alaihima as-salam— dihadirkan oleh Allah kepada kita untuk menjadi ibrah, bagaimana ketataan seorang Ibrahim dan Ismail kepada Tuhannya; yang membuat mereka dengan suka-rela mengorbankan milik mereka yang paling berharga. Ibrahim bersedia menyembelih putranya, sementara Ismail dengan rela, tanpa keberatan sedikit pun, bersedia disembelih oleh ayahandanya tercinta. Ini semua, dilakukan demi membuktikan ketaatan mereka kepada Tuhannya.
Apakah fragmen seperti ini hanya ada di dalam kisah-kisah al-Quran? Ataukah pernah ada dalam kehidupan nyata umat Islam? Ternyata, fragmen seperti itu juga telah ditunjukkan dalam kehidupan nyata umat terbaik ini. Adalah Muhaishah, sahabat Rasulullah saw. yang mengikuti perintah baginda untuk membunuh seorang Yahudi dalam sebuah peperangan. Yahudi yang dibunuhnya itu tak lain adalah pedagang yang biasa memberi pakaian kepadanya. Kakak Muhaishah, yang belum memeluk Islam, yaitu Huwaishah marah kepada Muhaishah, adiknya, seraya memukul dan menghardiknya, ”Apakah kamu membunuhnya? Demi Allah, makanan di dalam perutmu itu berasal dari hartanya.” Muhaishah pun menjawab, ”Demi Allah, sekiranya orang yang memerintahkan aku untuk membunuhnya, memerintahkan aku untuk membunuhmu, pasti aku akan penggal lehermu.” Huwaishah bertanya lagi dengan nada heran, ”Demi Allah, kalau Muhammad memerintahkan kamu membunuhku, kamu akan membunuhku?” Muhaishah menjawab dengan tegas, ”Benar.” Padahal, mereka adalah kakak-beradik. Allahu Akbar. Inilah manifestasi ketaatan yang mereka tunjukkan. Inilah ketaatan generasi emas para sahabat Rasulullah saw.
Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah:
Jika pada yaum Nahr (hari berkurban) ini, menyembelih hewan kurban di tanah suci bagi jamaah haji, pahalanya oleh Allah dihitung sebanyak tiap helai bulunya, maka bagaimana dengan pengorbanan total yang kita berikan kepada Allah sebagai manifestasi dari ketaatan kita dalam perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam?
Jika hari ini, jamaah haji yang tengah mengenakan pakaian ihram harus rela menahan sengatan panas matahari, sejak di Arafah, Muzdalifah sampai ke Mina, dengan keringat dan bau badan yang mengalir dari tubuh mereka, dan terhadap semuanya itu mereka dilarang untuk menutup kepala dan memakai wangi-wangian, karena kelak Allah akan membangkitkan mereka sebagai orang yang memenuhi panggilan-Nya (mulabbiyah). Jika karena ketaatannya, jamaah haji mendapatkan kemuliaan yang luar biasa, maka bagaimana dengan para pengemban dakwah, yang menghabiskan waktunya untuk berdakwah, berjalan di bawah terik matahari, siang-malam hidupnya untuk melakukan kontak dakwah, hari-harinya dihabiskan di perjalanan, hartanya pun habis dibelanjakan di jalan Allah, tentu mereka akan mendapatkan kemuliaan yang jauh luar biasa. Karena mereka bukan hanya menjalankan ketaatan untuk diri mereka sendiri, sebagaimana jamaah haji, tetapi ketaatan yang juga bisa ditebarkan kepada orang lain. Itulah kehidupan para pengemban dakwah. Pantaslah, jika karena jerih payahnya itu, apa yang mereka lakukan dinyatakan oleh Nabi lebih baik daripada terbitnya matahari dan bulan. Allahu Akbar 3x.
Inilah buah dari pengorbanan yang lahir dari ketaatan, ketakwaan dan pandangan jauh ke akhirat itu. Orang-orang yang taat ketika dipanggil oleh Allah, Rabb mereka, mereka pun menjawab:
«لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ»
”Hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”
Bagi mereka, tidak ada kata lain, kecuali: Sami’na wa atha’na; kami dengar, dan kami taat. Mereka tidak lagi memilih-milih, karena tidak lagi ada pilihan bagi mereka di hadapan perintah dan larangan Allah, kecuali patuh. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً ﴿٣٦﴾
”Dan tidaklah layak bagi orang Mukmin laki-laki maupun bagi orang Mukmin perempuan, jika Allah dan rasul-Nyat telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dalam urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.s. al-Ahzab [33]: 36)
Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah:
Marilah kita jujur, apakah sikap kita sudah seperti itu? Apakah kita telah memiliki ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah kita mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya dalam setiap perintah dan larangan-Nya?
Ketika Allah memerintahkan kita shalat, kita segera melaksanakannya. Ketika memerintahkan kita berpuasa, kita juga segera melaksanakannya. Ketika kita dilarang memakan Babi, kita pun segera meninggalkannya. Lalu, mengapa ketika Allah memerintahkan kita untuk menerapkan hukum-hukum-Nya, kita abai? Mengapa ketika Allah memerintahkan kita melaksanakan sistem ekonomi berdasarkan hukum-hukum-Nya, kita tidak menunaikannya? Begitu pun ketika Allah memerintahkan kita melaksanakan sistem pemerintahan berdasarkan hukum-hukum-Nya, kita tidak melaksanakannya? Bukankah kita tahu, bahwa hanya dengan hukum-hukum-Nya kehidupan kita akan menjadi lebih baik, dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat? Bukankah kita juga tahu, bahwa tanpa sistem pemerintahan Islam yang mampu mempersatukan umat, yakni Khilafah Islamiyah, umat ini menjadi lemah dan hina? Mereka tidak berdaya membela kehormatan mereka.
Mengapa dan mengapa, seruan-seruan Allah itu tidak segera dilaksanakan? Di manakah keataan total kita kepada Allah SWT, yang menciptakan kita, dan yang menghidupkan dan mematikan kita? Layak kah dengan sikap seperti itu kita mendambakan kemuliaan dan kehormatan. Layak kah dengan sikap seperti itu, kita menjadi umat yang disegani oleh kawan dan lawan? Bukankah dengan sikap seperti itu, kita justru telah menghinakan diri kita sendiri.
Lihatlah, kondisi politik, ekonomi, militer, sosial, budaya dan semua bidang kehidupan umat Islam saat ini. Semuanya dalam kondisi yang terpuruk. Kehidupan mereka dikuasai, dikontrol, disetir dan dijajah oleh musuh-musuh mereka. Kita hanya jadi pengekor yang tunduk dan patuh kepada orang-orang Kafir penjajah. Lihatlah, berapa ratus triliun rupiah telah dihabiskan untuk melaksanakan sistem demokrasi, yang nyatanya tidak membawa kebaikan bagi kehidupan mereka. Lihatlah ide-ide HAM, liberalisme, sekularisme, kapitalisme, dan segala isme-isme yang lain, yang jelas bertentangan dengan Islam, justru diterapkan oleh umat ini, karena mengekor orang-orang Kafir penjajah? Kita rela tunduk dan patuh kepada musuh Allah, Rasul-Nya dan orang Mukmin, sebaliknya rela mengkhianati Allah SWT dan Rasul-Nya. Jadilah kita umat yang hina. Terpuruk dalam kenistaan, kemiskinan, dan kebodohan. Jadilah kita korban keserakahan mereka hingga nyawa pun tidak ada harganya. Nyawa umat Islam begitu murah. Justru ketika Nabi telah menitahkan dalam Haji Wada’:
«فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ»
”Sesungguhnya darah kalian, harta dan kehormatan kalian adalah merupakan kemuliaan bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari ini, di bulan ini dan di negeri ini.”
Tapi, lihatlah apa yang terjadi di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, Moro, Pattani dan tempat lainnya menjadi bukti. Yang lebih menyedihkan lagi adalah kita masih tetap bergelimang dalam murka-Nya, karena dosa-dosa kita. Inilah kondisi terburuk umat Islam sepanjang sejarah.
Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah,
Marilah kita tengok kondisi kaum Muslim di dalam negeri. Di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini, hanya tersisa banyaknya jumlah saja. Bagaimana mungkin kita bangga sebagai Muslim kalau melarang dan membubarkan Ahmadiyah yang jelas sesat dan kafir saja tidak bisa? Apa yang tersisa dari identitas Islam kita, kalau melarang pornografi dan pornoaksi saja tidak bisa? Orang menikah dengan cara yang sah diteriaki, dihujat dan dikriminalkan; sementara orang yang berzina dan kumpul kebo dibiarkan. Ketika anak gadis kecil menikah, dipersoalkan karena dianggap mengambil haknya sebagai anak, tetapi ketika seorang perempuan rela hidup serumah tanpa tali pernikahan, tidak pernah dikatakan dilanggar hak keperempuan, hak keisterian dan hak pernikahannya. Inilah paradok perjuangan para pejuang HAM dan aktivis feminis. Belum lagi problem kemaksiatan lain, seperti korupsi, pembunuhan tanpa hak, perjudian, narkoba, suap, pemurtadan, praktik ekonomi ribawi, politik oportunistik yang tumbuh sebagai kejahatan sistemik. Maksiat yang terbesar adalah ditinggalkannya syariah Islam sekaligus diterapkannya hukum Kufur hingga menjadikan semua kaum Muslim di negeri ini telah maksiat berjamaah. Seolah kita pun tidak takut lagi, bahwa fitnah itu akan menyapu bersih siapa pun yang hidup di negeri penuh maksiat ini, tanpa kecuali, sebagaimana yang diingatkan oleh Allah:
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿٢٥﴾
”Takutlah kalian terhadap fitnah yang sekali-kali tidak hanya akan menimpa orang yang zalim di antara kalian saja. Ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Keras siksa-Nya.” (Q.s. al-Anfal [08]: 25)
Allahu Akbar 3x walillahil hamd.
Kaum Muslim rahimakumullah.
Kita telah menyaksikan semuanya itu dengan mata kepala kita. Belum cukupkah semua keburukan dan kehinaan ini mendera kita? Masihkah kita berharap pada keburukan dan kehinaan lain yang lebih buruk lagi? Padahal Allah telah menjadikan kita umat paling mulia. Lalu di manakah kemuliaan kita sekarang?
Tidak ada lagi solusi bagi semua kehinaan dan kesengsaran kita itu, kecuali dengan kembali kepada Islam, dengan menerapkan Islam secara kaaffah. Itulah yang menjadi penentu kemuliaan kita, sebagiamana dahulu Rasulullah saw. dan para sahabatnya —radhiyallahu ’anhum— telah meraihnya. Demikian pula khulafaur rasyidin, dan generasi-generasi setelahnya.
Wahai kaum Muslim, kini Allah memanggil kita, menuntut ketaatan total kita kepada-Nya. Ketaatan itu menuntut kita untuk berkorban; mengorbankan apa saja yang kita miliki demi menggapai ridha-Nya. Hanya dengan pengorbanan demi ketaatan itulah, kita akan meraih kembali kemuliaan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, itu semua, wahai kaum Muslim, hanya bisa diwujudkan jika hidup kita diatur dengan syariah-Nya di bawah naungan Khilafah Rasyidah ’ala Minhaj an-Nubuwwah.
Inilah saatnya kita berkorban. Tampil ke depan membawa panji-panji Islam. Berjuang dengan segenap daya dan kemampuan menyonsong kemengan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hari ini kita diperintahkan berkurban, yang semestinya menjadi ibrah, dalam memberikan pengorbanan klita yang lain. Tidak hanya berhenti pada penyembelihan kambing, sapi, atau unta. Namun pengorbanan harta, waktu, jiwa dan raga kita demi tegaknya agama Allah di muka bumi. Ingatlah, wahai kaum Muslim, bahwa untuk itulah Nabi bersumpah tidak akan pernah mundur walau selangkan, sampai Islam menang atau baginda saw. binasa:
«وَاَللّهِ لَوْ وَضَعُوا الشّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ حَتّى يُظْهِرَهُ اللّهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ».
”Demi Allah, andai saja mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, (lalu mereka minta) agar aku meninggalkan urusan (agama) ini, maka demi Allah, sampai urusan (agama) itu dimenangkan oleh Allah, atau aku binasa di jalannya, aku tetap tidak akan meninggalkannya.” (Hr. Ibn Hisyam)
Karena itu pula, Rasulullah saw. tidak sekadar menyampaikan risalah, tetapi juga menerapkan risalah itu dalam kehidupan nyata, sehingga baginda dinobatkan sebagai Kepala Negara Islam pertama. Negara yang baginda wariskan itulah yang disebut sebagai Khilafah, dan kepala negaranya, disebut dengan Khulafa’ (jamak dari Khalifah). Namun sayang, negara itu kini telah tiada, setelah dihancurkan oleh kaum Kafir penjajah, Inggris dan sekutunya, bekerjasama dengan Kamal Attaturk, la’natu-Llah wa al-malaikah wa ar-Rasul wa an-nas ajma’in.
Padahal, dengan Khilafah itulah kaum Muslim pernah hidup mulia. Dunia pun aman, damai, dan sejahtera di bawah naungannya selama puluhan abad. Kini, setelah Khilafah tidak ada dan dunia tengah menghadapi krisis global, Khilafah pun menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh umat manusia. Karenanya, Khilafah bukan saja cita-cita perjuangan kaum Muslim, tetapi juga seluruh umat manusia. Di saat kapitalisme sudah berada di ujung tanduk, maka kembalinya Khilafah sudah di depan mata. Sekarang tinggal kita; apakah kita akan menjadi pejuang atau pecundang? Menjadi pejuang, atau sekadar menjadi penonton? Sesungguhnya, penerapan syariah dalam naungan Khilafah, merupakan kewajiban setiap Muslim, sekaligus merupakan wujud mengurbanan hakiki kita dalam meraih kemuliaan dan keridloan Allah SWT.
Akhirnya, marilah kita berdoa semoga Allah SWT memberi kita kesabaran dan kekompakan, serta memungkinkan kita berperan penting dalam upaya menegakkan dan memperjuangkan negara Khilafah.
اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ والحمد لله رب العالمين.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ،
اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُحْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ تَحْرِيْرَ بِلاَدِ فَلَسْطِيْنِ وَاْلأَقْصَى، وَالْعِرَاقِ، وَالشَّيْشَانَ، وَأَفْغَانِسْتَانَ، وَسَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نُفُوْذِ الْكُفَّارِ الْغَاصِبِيْنَ وَالْمُسْتَعْمِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَ التُّقَى وَ الْعَفَافَ وَالْغِنَى نَاتِجَةً مِنْ صِيَامِنَا وَ اجْعَلْهُ شَافِعًا لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أنْجِزْ لَنَا مَا وَعَدَنَا عَلَى رَسُوْلِكَ مِنْ عَوْدَةِ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ، وَاجْعَلْنَا، وَذُرِيَّاتِنَا مِمَّنْ أَقَامَهَا بِأَيْدِيْنَا..
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Translate

Copyright @ 2013 CERAMAH UJU ( USTAD JUMADI ).